Ini 5 Vitamin Yang Dibutuhkan Untuk Meningkatkan Kesuburan

Apa yang kita konsumsi juga turut menentukan tingkat kesuburan kita. Hal ini disebabkan oleh tubuh membutuhkan nutrisi dan berbagai vitamin untuk mempertahankan kebugaran dan fungsi penting didalam tubuh termasuk juga fungsi reproduksi.

Organ tubuh yang tidak berfungsi maksimal juga mempengaruhi tingkat kesuburan kita. Selain itu, beberapa jenis masalah kesehatan juga mempengaruhi kemampuan tubuh dalam menyerap nutrisi yang akan meningkatkan resiko infertilitas.

Ini 5 Vitamin Yang Dibutuhkan Untuk Meningkatkan Kesuburan

Berikut berbagai vitamin yang dibutuhkan tubuh untuk meningkatkan kesuburan:

  • Vitamin B6
    Riset membuktikan bahwa wanita yang memiliki kadar B6 lebih tinggi memiliki tingkat kesuburan yang lebih baik.

    Pasalnya, vitamin B6 dapat menurunkan kadar homicysteine pada wanita sehingga membantu meminimalisir masalah ovulasi. Hal ini juga meningkatkan peluang kehamilan.

  • Vitamin B9
    Sebuah riset pada 2012 lalu menemukan bahwa asupan Vitamin B9 dalam kadar yang tepat dapat memengaruhi tingkat progesteron.

    Sebaliknya, Vitamin B9 atau yang dikenal dengan asam folat dengan tingkat yang rendah dapat menyebabkan gangguan ovulasi. Untuk pria, kadar folat juga dapat menurunkan kualitas sperma.

    Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS juga menyarankan warnia yang tengah melakukan program kehamilan untuk rutin mengonsumsi folat setidaknya satu bulan sebelum masa kehamilan.

    Asam folat memainkan peranan penting didalam produksi sel darah merah dan juga membantu perkembangan pada otak janin.

  • Vitamin C
    Vitamin C adalah antioksidan yang kuat yang dimana memainkan peran utama didalam kesuburan. Antioksidan mengurangi dampak negatif radikal bebas dan mengurangi kerusakan pada tubuh.

    Riset telah membuktikan bahwa konsumsi vitamin C dapat meningkatkan kesehatan dari sperma dan mengurangi adanya fragmentasi DNA sperma.

  • Vitamin D
    Kekurangan vitamin D dapat meningkatkan resiko dari infestilitas. Hal dikarenakan organ reproduksi wanita dan pria memiliki reseptor vitamin D dan metabolisme enzim.

    Hal ini memperlihatkan bahwa vitamin D sangat penting untuk menjaga kesuburan dari pria adan wanita. Tubuh dengan kadar vitamin D yang rendah dapat meningkatkan masalah ovulasi dan resiko endometriosis.

  • Vitamin E
    Vitamin E dapat meningkatkan motilitas sperma dan meningkatkan kesehatan reproduksi wanita. Selain itu, kandungan antioksidan didalam vitamin E dapat meningkatkan fungsi dari sperma yang dimiliki oleh pria dan mendukung kesehatan reproduksi secara umum.

Pria Ini Mengalami Masalah Medis Yang Langka Yaitu Tidak Dapat Mengenali Angka

Seorang pria mengalami kondisi medis yang unik. Ia hanya dapat melihat angka 0 dan 1 sementara angka lainnya terlihat aneh untuknya. Angka 8 sebagai contohnya, pria yang berinisial RFS ini melihat angka tersebut bukan sebagai angka melainkan topen mata.

“Dia menggambarkan bahwa angka-angka tersebut sebagai hal teraneh yang pernah dia lihat,” kata peneliti postdoctoral dan kognitif yang berasal dari Veterans Affairs Boston Healthcare System, David Rothlein.

Rupanya, RFS memiliki kondisi degeneratif otak yang menyebabkannya tidak dapat melihat angka sebagai objek yang dikenali dengan jelas. Kondisi tidak normla ini diawali pada tahun 2010 yang dimana dirinya mendadak pusing serta kesulitan untuk bicara. Tidak hanya itu, dia juga mengalami amnesia dan kesulitan untuk melihat pada saat itu.

Tidak berakhir sampai sana, beberapa bulan kemudian dirinya kesulitan untuk berjalan. Kondisi motorik ini terus memburuk seiring berjalannya waktu.

Pria Ini Mengalami Masalah Medis Yang Langka Yaitu Tidak Dapat Mengenali Angka

Setelah ke dokter, RFS didiagnosa mengalami kelainan otak degeneratif langka yang disebut dengan sindrom kortikobasal. Ini adalah kondisi dimana dapat menyebabkan masalah pada pergerakan dan bahasa.

Dari pemindaian otak memperlihatkan bahwa terdapat kerusakan yang luas seperti ditemukan pada penelitian. Pemindaian otak telah mengungkapkan kerusakan secara luas dan hilangnya volume dibagian otak, otak tengah dan otak kecil.

“Permasalahan didalam melihat angka ini terjadi secara perlahan-lahan setelah kejadian itu,” kata peneliti bidang kognitif John Hopkins University, Michael McClosky.

Penelitian terhadap kondisi RFS ini mulai dilakukan pada 2011 ketika dirinya berusia 60 tahun. Untuk para peneliti, kondisi yang dialami oleh RFS ini merupakan pertama kali yang mereka tangani.

“Kondisi ini membuat pria menjadi sulit melihat angka. Ya yang paling mencolok adalah itu, dia tidak dapat melihat angka,” kata McClosky.

Ketika diberikan huruf B yang menyerupai angka 8, dirinya dapat mengenali huruf tersebut. Akan tetapi, ketika diberkan angka 8 dirinya tidak dapat mengenalinya. Hal mengejutkan adalah dia dapat mengenali 0 dan 1.

“Tidak begitu jelas apa penyebabnya, tapi mungkin huruf tersebut seperti 0 dan 1. Atau mungkin kedua angka tersebut diproses secara berbeda oleh otak,” kata McClosky.

Anak Yang Mengalami Diare Terlalu Sering Memiliki Resiko Lebih Tinggi Terkena Stunting

Diare adalah salah satu penyakit yang dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia ataupun gender. Penyakit ini sering dianggap sepele oleh sebagian orang. Hal ini disebabkan oleh banyak orang yang berpendapat bahwa diare dapat sembuh sendiri tanpa harus meminum obat.

Dijelaskan bahwa diare sebenarnya adalah cara tubuh untuk membersihkan diri dari kuman. Sebagian besar diare berlangsung beberapa hari hingga paling lama adalah seminggu. Ada juga orang yang terserang oleh diare dengan disertai oleh demam, mual dan juga muntah.

Penyebab diare yang paling sering adalah infeksi virus seperti rotavirus. Diare juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri seperti salmonella. Untuk kasus yang lebih jarang ditemukan diare yang disebabkan oleh infeksi parasit.

Namun, apakah para ibu dari Generasi Bersih dan Sehat tahu bahwa diare yang menyerang anak-anak terutama pada usiah dibawah 2 tahun dapat emnjadi penyakit yang cukup berbahaya karena dapat menyebabkan stunting atau gagal tumbuh kembang pada anak?

Diare terjadi karena terdapat gangguan pada vili usus. Gangguan ini daapt membuat penyerapan nutrisi anak menjadi terganggu.

Anak Yang Mengalami Diare Terlalu Sering Memiliki Resiko Lebih Tinggi Terkena Stunting

Walaupun begitu, dr Ariani Dewi Widodo, SpA (K) mengungkapkan bahwa tidak semua diare dapat menyebabkan terjadinya stunting. Stunting ini terjadi jika anak mengalami diare berat atau akut yang terjadi secara berulang ataupun diare kronis yang berlangsung dalam waktu lama.

Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dua minggu sementara diare akut berlangsung kurang dari 2 minggu.

“Stunting juga biasanya menyebabkan keadaan tubuh menjadi kurang baik sehingga dapat menyebabkan penyakit yang dimana salah satunya adalah diare. Ini semua saling terkait,” jelas Ariani.

Anak-anak memang lebih beresiko untuk terkena diare karena memiliki sistem kekebalan tubuh yang kurang kuat dan kebersihan tubuh yang masih kurang dijaga.

Contohnya adalah anak balita yang masih belum terbiasa untuk mencuci tangan setelah bermain ataupun sebelum makan. Pada anak yang lebih kecil lagi, kebiasaan memasukan benda kedalam mulut juga memiliki potensi menyebabkan diare.

Nah, jika anak terserang diare, ibu tentu saja harus menjaganya supaya tidaklah kehilangan terlalu banyak cairan.

Bagi bayi dan anak dapat terus diberikan ASI atau larutan rehidrasi oral seperti oralit. Bagi anak yang lebih besar, dapat minum apa saja yang mereka sukai supaya dapat memenuhi kebutuhan cairan tubuh termasuk oralit dan produk bermerek lainnya. Biasanya adalah produk yang memiliki akhiran “Lyte”.

Mengonsumsi air putih saja terbukti tidak cukup untuk mereka yang mengalami diare. Hal ini karena air putih tidak memiliki kandungan natrium, kalium ataupun mineral lainnya yang mencukupi untuk merehidrasi anak-anak.

Diare dapat hilang dalam beberapa hari namun pada kondisi tertentu, anak harus segera dibawa ke dokter. Berikut ini adalah beberapa kondisi tersebut:

  • Tampak sangat sakit
  • Terlihat terlalu lemah untuk berdiri
  • Sudah diare lebih dari 3 hari
  • Bingung atau pusing
  • Berusia kurang dari 6 bulan
  • Muntah berupa cairan berwarna hijau atau kuning berdarah
  • Demam lebih dari 40 derajat celcius atau untuk bayi dibawah 6 bulan demam dengan suhu diatas 37 derajat celcius (diukur oleh termometer dubur)
  • Memiliki tinja berdarah
  • Bayi usia satu bulan mencret 3x atau lebih
  • Terlihat mengalami dehidrasi
  • Anak mencret 4x didalam 8 jam atau tidak minum cukup
  • Anak mmeiliki kekebalan tubuh yang lemah
  • Terlihat ruam pada tubuh anak sakit perut selama lebih dari dua jam
  • Bayi belum buang air kecil dalam 6 jam atau anak-anak 12 jam

Jika ke dokter, jangan lupa untuk bertanya mengenai jumlah cairan yang dibutuhkan anak, cara anak dapat memperoleh kebutuhan cairan tersebut, kapan harus memberikan cairan tersebut dan cara untuk mengidentifikasi tanda-tanda dari dehidrasi.

Ahli Dari Universitas Sebelas Maret Ungkap Hasil Rapid Test Non-Reaktif Belum Tentu Negatif COVID-19

Hasil rapid test reaktif belum dapat menjadi pertunjuk bagi seorang apakah telah terinfeksi COVID-19. Begitu juga sebaliknya, hasil rapid test non-reaktif belum tentu memperlihatkan seseorang negatif virus corona.

Akademisi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, dr. Tonang Dwi Ardyanto, SpPK., Phd., awalnya menjelaskan penyebutan hasil rapid test tersebut yang benar adalah reaktif ataupun non-reaktif bukanlah positif atau negatif.

Ia menyebut bahwa salah satu sumber pemicu masalah didalam pandemi COVID-19 selama ini adalah pandangan yang dipicu oleh salah kaprah penyebutan.

dr. Tonang menerangkan bahwa kata positif ini harus hati-hati digunakan untuk menyampaikan mengenai hasil rapid test COVID-19. Padahal sebenarnya tidak ada hasil positif-negatif didalam hasil rapid test COVID-19.

“Tidak ada hasil rapid test COVID-19 yang menyatakan bahwa positif,” kata dr. Tonang.

Ahli Dari Universitas Sebelas Maret Ungkap Hasil Rapid Test Non-Reaktif Belum Tentu Negatif COVID-19

Oleh karena itu, dia mengimbau untuk tidak pernah ada yang menyebut seseorang positif COVID-19 hanya karena hasil dari rapid test.

“Apakah yang hasil rapid test-nya itu reaktif pasti positif? Belum tentu,” katanya.

Setelah ada hasil rapid test yang reaktif, yang harus dilakukan berikutnya adalah tahapan untuk mengonfirmasi dengan melakukan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) pada pasien.

“Hasil PCR ini mungkin menyatakan positif COVID-19 tetapi bisa juga tidak. Oleh karena itu, rapid test dapat disebut dengan nama skrinning tetapi bukan diagnosis pasti,” katanya.

Begitu juga untuk orang memiliki rapid test non-reaktif. Menurut dr. Tonang hal tersebut tidaklah memastikan tes PCR-nya akan negatif atau bebas dari COVID-19.

“Karena mungkin saja, memang belum tepat waktunya,” jelasnya.

Untuk dapat menyebut positif dan negatif, menurut dr. Tonang akan lebih baik jika setelah mengantongi hasil dari tes PCR. Setiap pasien yang diambil dua kali swab. Untuk mudhanya dapat disebut dengan hari pertama atau H1 dan hari kedua atau H2.

“Dapat disebut positif jika minimal pada salah satu tes swab terdapat virus COVID-19,” jelasnya.

dr. Tonang mengatakan bahwa seseorang atau pasien dapat disebut negatif COVID-19 jika pada dua kali swab tidak ditemukan virus COVID-19.

“Oleh karena itu kalau ada hasil PCR yang negatif tetapi baru dari sampel pertama saja maka belum dapat di simpulkan. Harus menunggu hasil dari sampel kedua,” katanya.

Mengenai hasil rapid test yang digunakan untuk syarat dapat melakukan perjalanan, dr. Tonang memiliki pendapat bahwa akan lebih baik jika syarat tersebut juga dilengkapi dengan hasil tes PCR yang menyatakan negatif COVID-19.

“Kalaupun harus diperiksa, adalah kombinasi rapid test antigen dan rapid test antibodi pada hari keberangkatan,” kata dr. Tonang.