Ini Pentingnya Menjaga Gigi Susu Pada Anak-Anak

Banyak orang tua tidak menyadari bagaimana pentingnya merawat gigi susu pada anak-anak.

mereka terlihat sepela dan menganggap remeh karena menganggap semua gigi susu akan berganti dan hanya gigi tetap yang membutuhkan perawatan. Padahal, pemahaman ini sebenarnya kurang tepat karena dapat merugikan anak itu sendiri.

Drg. Endang Sariningsih dalam bukunya Merawat Gigi Anak Sejak Usia Dini yang dikeluarkan pada 2012, mengungkapkan bahwa jika gigi susu tidak dipelihara dengan baik maka berpotensi unutk berlubang.

GIgi susu yang berlubang dapat menyebabkan anak menderita sakit gigi dan bahkan hingga mengalami pembengkakan pada area sekitar gigi.

Kondisi ini sangat mungkin menyebabkan anak akan menjadi rewel, menangis, tidak dapat tidur dengan tenang dan tidak nafsu untuk makan karena sakit jika mengunyah.

Jika keadaan ini berlangsung didalam jangka waktu yang lama dan berulang-ulang, bukan tidak mungkin anak akan kekurangan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh sehingga mempengaruhi pertumbuhan dari sang anak baik secara fisik dan kecerdasannya.

Ini Pentingnya Menjaga Gigi Susu Pada Anak-Anak

Jadi, penting untuk diperhatikan bahwa gigi susu atau gigi sulung agar tetap dipertahankan berada didalam mulut hingga pada waktu tanggalnya sendiri.

Hal ini dibutuhkan juga menjadi penuntun untuk tempat tumbuhnya gigi permanen. Dimana, gigi susu akan mempertahankan ruang didalam lengkung gigi untuk tempat tumbuhnya gigi tetap yang akan menjadi penggantinya.

Tidak hanya itu, secara umum, gigi susu memiliki beberapa fungsi atau manfaat lain untuk anak yaitu:

  1. Memotong, mengiris, merobek dan mengunyah makanan yang berguna untuk membantu penceraan pada saluran pencernaan.
  2. Stimulasi pertumbuhan rahang melalui pengunyahan.
  3. Memperjelas bicara karena kehilangan dini gigi susu dengan dapat mengakibatkan kesulitan untuk pengucapan bunyi huruf “F”, “V”, “S”, “Z”, dan “TH”.
  4. Estektik yaitu membentuk wajah serta membantu memperbaiki penampilan anak terutama pada waktu tersenyum dan tertawa.

Untuk pencegahan agar gigi susu anak tidak berlubang, perlu perawatan sendiri yang dilakukan oleh orang tua dan anak itu sendiri di rumah. Dengan melalui bimbingan oran tua, anak dapat dibiasakan untuk untuk menyikat gigi setelah makan pagi dan sebelum tidur.

Selain itu, setelah makan siang, anak juga dapat dibiasakan untuk berkumur-kumur dengan air. Hal ini akan menjadi sangat bermanfaat untuk mengurangi terjadinya karies atau lubang pada gigi dan menjaga supaya gusi tetap sehat.

Tetapi, jika gigi telah berlubang atau gusi mengalami peradangan, anak-anak perlu diajak ke dokter gigi untuk memperoleh perawatan atau pengobatan lebih lanjut.

Selain mencegah gigi berlubang dan gusi menjadi sehat, perawatan gigi seawal mungkin sangatlah penting dilakukan untuk mencegah gigi susu dicabut lebih awal sebelum waktunya karena terjadinya pembusukan pada gigi dan mencegah kurang utmbuh rahang anak yang dapat mengakibatkan gigi tumbuh berdesakan secara permanen.

Gigi yang tumbuh tidak teratur tersebut dapat memengaruhi penampilan dan rasa percaya diri anak setelah menginjak masa remaja. Anak pun menjadi enggang untuk tersenyum. Padahal, senyuman adalah bagian penting didalam proses sosial dan komunikasi.

Sementara itu, jika anak sampat mengalami sakit gigi karena adanya perawatan yang kurang, dapat menghadapi gangguan proses belajar, gangguan tidur, aktivitas sehari hingga gangguan makan.

Oleh karena itu, para orang tua sebaiknya memperhatikan kesehatan gigi anak, pertumbuhan gigi susu anak dan pertumbuhan gigi permanen anak untuk memastikan mereka jauh dari berbagai masalah terkait dengan kesehatan gigi.

Kembali lagi, kesehatan adalah investasi untuk mendukung kualitas hidup yang lebih baik, termasuk didalamnya peningkatan pemeliharaan pada bidang kesehatan gigi dan mulut.

Kanker Paru Bukanlah Penyakit Yang Ujug-Ujug Muncul Seperti COVID-19

Ketua POKJA Kanker Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr. Elisna Syahruddin, Phd, Sp.P(K)Onk, menjelaskan perbedaan antara kanker terutama kanker paru dengan COVID-19.

Menurutnya, kanker adalah penyakit gen yang tumbuh didalam tubuh setelah proses yang memakan waktu lama. Sedangkan, COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus menular.

COVID-19 cenderung tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memperlihatkan gejala. Sedangkan kanker membutuhkan waktu paling tidak 10 tahun untuk dapat tumbuh sebesar 1 cm dan baru terdiagnosis.

“Kanker ini bukanlah penyakit yang ujug-ujug tetapi itu memerlukan waktu yang lama yang dikenal dengan nama carcinogenesis atau proses pertumbuhan sel normal menjadi sel kanker dan baru dapat terdeteksi secara klinis,” kata Elisna pada webinar Lungtalk IPKP.

Kanker Paru Bukanlah Penyakit Yang Ujug-Ujug Muncul Seperti COVID-19

“Kenapa kanker paru repot karena tumbuhnya didalam sehingga sulit untuk terlihat, beda dengan kanker payudara yang kalau ada benjolan kecil langsung dapat didiagnosa.”

Ia menambahkan bahwa faktor resiko dari kedua penyakit ini juga berbeda. Seseorang dapat terinfeksi COVID-19 jika tidak mematuhi protokol kesehatan seperti tidak melakukan jaga jarak, tidak menggunakan masker dan aturan lainnya. Sedangkan faktor resiko kanker paru yang paling besar itu adalah karena merokok dan polusi udara.

“Sebenarnya faktor resiko kanker itu sangat jelas dan ada 4 dari 10 kanker itu dapat dicegah termasuk salah satunya kanker paru. Salah satu penyebabnya adalah paparan asap rokok.”

Selain perokok aktif, perokok pasif juga memiliki resiko tinggi untuk terkena kanker paru.

Disamping paparan asap rokok, kanker paru juga dapat disebabkan oleh faktor lainnya seperti mengonsumsi makanan tidak sehat. Makanan cepat saji yang enak tanpa disadari memiliki resiko yang tinggi untuk menyebabkan kanker tidak hanya kanker paru tetapi kanker secara umum.

“Untuk kanker secara umum, berat badan yang berlebihan juga meningkatkan resiko. Tidak meminum alkohol, jangan coba-coba. Jangan terlalu santai harus aktif bergerak.”

Menurutnya, kanker paru bukanlah penyakit yang dapat diturunkan. Akan tetapi, jika orang tua mengalami kanker maka anaknya memiliki kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan anak yang orang tuanya tidak mengalami kanker.

Tes Darah Dikembangkan Untuk Dapat Mendeteksi Alzheimer Lebih Dini

Tes darah ternyata dapat digunakan untuk mendeteksi orang yang menderita Alzheimer. Penelitian ini meningkatkan harapan untuk cara diagnosis sederhana dari penyakit demensia ini.

Pada Selasa lalu, para peneliti mengumumkan bahwa mereka telah melakukan tes darah eksperimental yang dapat mengidentifikasi seseorang dengan Alzheimer dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami demensia dengan akurasi antara 89 hingga 98 persen.

“Data ini terlihat sangat menggembirakan,” kata Eliezer Masliah, kepala ilmu syaraf di US National Institute on Aging.

Masliah mengatakan bahwa walaupun pengujian baru seperti ini terlihat lebih sensitif dan dapat diandalkan daripada metode yang telah ada sebelumnya, akan tetapi percobaan pada populasi yang lebih besar dan beragam masih harus dilakukan.

Hasil studi ini didiskusikan di Alzheimer’s Association International Conference yang dilakukan secara online. Beberapa hasilnya dipublikasikan di Journal of the America Medical Association.

Tes Darah Dikembangkan Untuk Dapat Mendeteksi Alzheimer Lebih Dini

Tahun lalu, para ilmuwan juga melakukan penelitian tes eksperimental yang bertujuan untuk mengukur versi abnormal dari amiloid, salah satu dari dua protein yang menumpuk dan menyebabkan kerusakan pada otak pasien Alzheimer.

Didalam studi terbaru ini, para peneliti berfokus pada protein lain yaitu tau. Mereka menemukan bahwa salah satu bentuknya yang dikenal dengan p-tau217 adalah indikator yang lebih baik. Beberapa perusahaan dan universitas pun disebutkan telah mengembangkan tes eksperimental p-tau217.

Oskar Handsson yang berasla dari Lund University, Swedia juga melakukan penelitian demensia pada 1.400 orang yang berasal dari Swedia, Kolombia dan Arizona. Mereka adalah orang yagn tanpa gangguan, gangguan ringan, Alzheimer dan penyakit neurologis lainnya.

Tes p-tau217 ini megungguli tindakan lain untuk dapat mendeteksi peserta mana yang memiliki Alzheimer yang lalu diverifikasi dengan melalui pemindaian otak.

Beberapa peserta di Arizona telah menyanggupi untuk mendonorkan otak yang mereka miliki jika meninggal dunia sehingga peneliti dapat memperlihatkan bahwa tes dara ketika mereka hidup terkait dengan bukti penyakit yang ada di masa depan.

Selain itu dalam bagian lain dari studi ini di Kolombia menemukan tanda penyakit kognitif pada 20 tahun sebelum gejala yang diantisipasi pertama kali muncul dalam mutasi genetik.

“Membedakan patologi Alzheimer dari jenis gangguan kognitif lainnya adalah langkah penting didalam memajukan pemahaman kita mengenai bagaimana penyakit ini akan berdampak pada mereka yang hidup dengan kondisi ini,” kata Jeffrey Dage.

“Seiring dengan kemajuan penelitian dan kami dapat mengidentifikasi Alzheimer lebih dini, kami harapkan dapat menyesuaikan kemajuan teknologi pengobatan di masa depan dengan pasien yang tepat pada saat yang tepat pula.”

Mari Carillo, Kepala Penelitian Alzheimer Association mengatakan bahwa temuan ini cukup bagus dan bermanfaat dibandingkan temuan sebelumnya. Para peneliti pun mengharapkan supaya tes seperti ini dapat digunakan secara luas dalam dua tahun yang akan datang.

Ciri-Ciri Gejala Mastitis Yang Sering Dialami Oleh Ibu Menyusui

Mastitis adalah sebuah mimpi buruk untuk seorang ibu yang tengah menyusui. Bagaimana tidak, kondisi ini membuat ibu terkadang harus menyapih sementara buah hatinya.

Mastitis adalah sebuah kondisi dimana jaringan payudara wanita menjadi meradang dan membengkak. Biasanya, kondisi ini disebabkan oleh adanya infeksi pada saluran payudara.

Peradangan yang terjadi ini dapat menyebabkan rasa nyeri, panas, bengkak dan kemerahan. Beberapa wanita bahkan melaporkan mengalami demam dan mengigil akibat dari mastitis ini.

Bahkan, mastitis dapat menyebabkan rasa lemas hingga sulit untuk merawat bayi. Kadang kala, kondisi-kondisi ini membuat ibu terpaksa untuk menyapih bayi sebelum waktunya.

Ciri-Ciri Gejala Mastitis Yang Sering Dialami Oleh Ibu Menyusui

Infeksi ini sering terjadi pada satu hingga tiga bulan pertama setelah melahirkan. Walaupun begitu, kondisi peradangan ini juga daapt terjadi pada wanita yang belum pernah melahirkan dan wanita yang telah menopause.

Pada wanita yang sehat, kasus mastitis jarang terjadi berdasarkan data yang dimiliki oleh WebMd. Tetapi pada wanita yang memiliki sejarah penyakit kronis, AIDS, diabetes ataupun gangguan sistem kekebalan tubuh memiliki kerentanan yang lebih tinggi.

Kondisi ini memang tidaklah selalu menyebabkan terjadinya peradangan akan tetapi biasanay mastitis dapat memiliki gejala sebagai berikut:

  • Pembengkakan pada payudara
  • Kemerahan
  • Rasa nyeri jika payudara ditekan
  • Sensasi panas pada payudara terus menerus atau ketika menyusui
  • Gatal pada jaringan payudara
  • Benjolan atau penebalan jaringan payudara
  • Demam
  • Payudara terasa sakit

Sebagian besar kasus mastitis harus didiagnosis secara klinis. Seorang dokter akan menanyakan pertanyaan mengenai kondisi sang ibu dan kemudian melakukan pemeriksaan secara fisik.

Dokter mungkin akan bertanya kapan pertama kali melihat peradangan dan seberapa sakit pada saat peradangan terjadi. Mereka juga akan bertanya mengenai gejala lainnya, apakah sang ibu menyusui atau apakah sang ibu sedang menjalani pengobatan.

Setelah pemeriksaan fisik, dokter mungkin akan dapat mengetahui apa yang sang ibu menderita mastitis. Jika seorang ibu telah mengalami infeksi yang parah atau pengobatan tidak memberikan dampak yang positif maka dokter akan meminta sampel dari ASI sang ibu.

Sampel ASI ini akan digunakan untuk mengindentifikasi bakteri yang menyebabkan terjadinya infeksi. Pengujian ini dilakukan untuk memastikan bawah gejala yang terjadi bukanlah disebabkan oleh kanker payudara karena peradangan pada kanker payudara hampir sama dengan mastitis.

Apakah Benar Seorang Ibu Hamil Tidak Boleh Mengonsumi Minuman Dingin Atau Es?

Pada saat awal kehamilan, banyak ibu hamil yang diberi wejangan untuk tidak mengonsumsi makanan atau minuman tertentu. Salah satunya adalah ibu hamil dilarang untuk mengonsumsi minuman dingin terutama yang ada es pada periode trimester awal kehamilan.

Menurut beberapa kepercayaan, minum es ketika hamil akan membuat perut sakit, bayi menjadi kaget hingga memicu asma pada si kecil. Namun, apakah semua kepercayaan tersebut benar?

Dilansir dari situs Pregnant, kepercayaan untuk melarang ibu hamil minum es ataupun minuman dingin adalah mitos. Mitos ini berkembang didalam kultur Asia karena sebagian besar masyarakat menganggap bahwa rahim seperti layaknya inkubator untuk bayi.

Dengan anggapan ini, jain dianggap harus mendapatkan asupan makanan yang hangat. Hal ini memunculkan gagasan ibu hamil yang minum es atau dingin ketika mengandung akan membuat bayi kaget.

Apakah Benar Seorang Ibu Hamil Tidak Boleh Mengonsumi Minuman Dingin Atau Es?

Padahal asupan dingin ini tidaklah direspon oleh semua indra. Apa yang masuk kedalam mulut akan diencerkan ketika berada di kerongkongan hingga ke perut.

Disisi lain, selama ini banyak penderita asma yang sensitif pada makanan dan minuman dingin. Hal ini mendorong mitos lainnya yaitu ibu hamil yang minum es akan menyebabkan bayi memiliki asma.

Padahal faktanya adalah penyebab asma lebih besar dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Dr Sangeeta Pikale yang berasal dari S L Raheja Hospital India mengatakan bahwa sah sah saja jika seorang ibu yang hamil mengonsumsi minuman dingin atau es.

Terlebih ketika ibu hamil berada didalam kondisi yang sehat dan kandungan yang dimilikinya juga dalam keadaan yang prima.

“Selama sebelum mengandung tubuh ibu hamil tidak bereaksi pada minuman dingin atau es maka tidaklah ada masalah sama sekali,” jelasnya.

Akan tetapi, Pikale menjelaskan bahwa ibu hamil yang ingin mengonsumsi es atau dingin juga harus memperhatikan jenis asupan didalam minuman tersebut.

Layaknya pada kondisi tidak hamil, konsumsi asupan manis, kafein ataupun soda secara berlebihan juga dapat memberikan dampak pada janin.

“Batasan manis, kafein dan lainnya ketika hamil harus benar-benar di perhatikan. Jumlahnya tidaklah boleh lebih banyak dari ketika hamil bahkan kalau bisa dikurangi. Intinya, jangan berlebihan,” tambahnya.

Pikale juga menyarankan para ibu hamil untuk terus berkonsultasi dengan dokter yang mereka miliki megnenai kondisi dari janin ataupun sang ibu sendiri. Terutama jika ibu hamil tersebut memiliki tingkat kehamilan yang berisiko dan penyakit penyerta seperti darah tinggi, diabetes dan kondisi medis lainnya.

Pria Ini Mengalami Masalah Medis Yang Langka Yaitu Tidak Dapat Mengenali Angka

Seorang pria mengalami kondisi medis yang unik. Ia hanya dapat melihat angka 0 dan 1 sementara angka lainnya terlihat aneh untuknya. Angka 8 sebagai contohnya, pria yang berinisial RFS ini melihat angka tersebut bukan sebagai angka melainkan topen mata.

“Dia menggambarkan bahwa angka-angka tersebut sebagai hal teraneh yang pernah dia lihat,” kata peneliti postdoctoral dan kognitif yang berasal dari Veterans Affairs Boston Healthcare System, David Rothlein.

Rupanya, RFS memiliki kondisi degeneratif otak yang menyebabkannya tidak dapat melihat angka sebagai objek yang dikenali dengan jelas. Kondisi tidak normla ini diawali pada tahun 2010 yang dimana dirinya mendadak pusing serta kesulitan untuk bicara. Tidak hanya itu, dia juga mengalami amnesia dan kesulitan untuk melihat pada saat itu.

Tidak berakhir sampai sana, beberapa bulan kemudian dirinya kesulitan untuk berjalan. Kondisi motorik ini terus memburuk seiring berjalannya waktu.

Pria Ini Mengalami Masalah Medis Yang Langka Yaitu Tidak Dapat Mengenali Angka

Setelah ke dokter, RFS didiagnosa mengalami kelainan otak degeneratif langka yang disebut dengan sindrom kortikobasal. Ini adalah kondisi dimana dapat menyebabkan masalah pada pergerakan dan bahasa.

Dari pemindaian otak memperlihatkan bahwa terdapat kerusakan yang luas seperti ditemukan pada penelitian. Pemindaian otak telah mengungkapkan kerusakan secara luas dan hilangnya volume dibagian otak, otak tengah dan otak kecil.

“Permasalahan didalam melihat angka ini terjadi secara perlahan-lahan setelah kejadian itu,” kata peneliti bidang kognitif John Hopkins University, Michael McClosky.

Penelitian terhadap kondisi RFS ini mulai dilakukan pada 2011 ketika dirinya berusia 60 tahun. Untuk para peneliti, kondisi yang dialami oleh RFS ini merupakan pertama kali yang mereka tangani.

“Kondisi ini membuat pria menjadi sulit melihat angka. Ya yang paling mencolok adalah itu, dia tidak dapat melihat angka,” kata McClosky.

Ketika diberikan huruf B yang menyerupai angka 8, dirinya dapat mengenali huruf tersebut. Akan tetapi, ketika diberkan angka 8 dirinya tidak dapat mengenalinya. Hal mengejutkan adalah dia dapat mengenali 0 dan 1.

“Tidak begitu jelas apa penyebabnya, tapi mungkin huruf tersebut seperti 0 dan 1. Atau mungkin kedua angka tersebut diproses secara berbeda oleh otak,” kata McClosky.

Anak Yang Mengalami Diare Terlalu Sering Memiliki Resiko Lebih Tinggi Terkena Stunting

Diare adalah salah satu penyakit yang dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia ataupun gender. Penyakit ini sering dianggap sepele oleh sebagian orang. Hal ini disebabkan oleh banyak orang yang berpendapat bahwa diare dapat sembuh sendiri tanpa harus meminum obat.

Dijelaskan bahwa diare sebenarnya adalah cara tubuh untuk membersihkan diri dari kuman. Sebagian besar diare berlangsung beberapa hari hingga paling lama adalah seminggu. Ada juga orang yang terserang oleh diare dengan disertai oleh demam, mual dan juga muntah.

Penyebab diare yang paling sering adalah infeksi virus seperti rotavirus. Diare juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri seperti salmonella. Untuk kasus yang lebih jarang ditemukan diare yang disebabkan oleh infeksi parasit.

Namun, apakah para ibu dari Generasi Bersih dan Sehat tahu bahwa diare yang menyerang anak-anak terutama pada usiah dibawah 2 tahun dapat emnjadi penyakit yang cukup berbahaya karena dapat menyebabkan stunting atau gagal tumbuh kembang pada anak?

Diare terjadi karena terdapat gangguan pada vili usus. Gangguan ini daapt membuat penyerapan nutrisi anak menjadi terganggu.

Anak Yang Mengalami Diare Terlalu Sering Memiliki Resiko Lebih Tinggi Terkena Stunting

Walaupun begitu, dr Ariani Dewi Widodo, SpA (K) mengungkapkan bahwa tidak semua diare dapat menyebabkan terjadinya stunting. Stunting ini terjadi jika anak mengalami diare berat atau akut yang terjadi secara berulang ataupun diare kronis yang berlangsung dalam waktu lama.

Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dua minggu sementara diare akut berlangsung kurang dari 2 minggu.

“Stunting juga biasanya menyebabkan keadaan tubuh menjadi kurang baik sehingga dapat menyebabkan penyakit yang dimana salah satunya adalah diare. Ini semua saling terkait,” jelas Ariani.

Anak-anak memang lebih beresiko untuk terkena diare karena memiliki sistem kekebalan tubuh yang kurang kuat dan kebersihan tubuh yang masih kurang dijaga.

Contohnya adalah anak balita yang masih belum terbiasa untuk mencuci tangan setelah bermain ataupun sebelum makan. Pada anak yang lebih kecil lagi, kebiasaan memasukan benda kedalam mulut juga memiliki potensi menyebabkan diare.

Nah, jika anak terserang diare, ibu tentu saja harus menjaganya supaya tidaklah kehilangan terlalu banyak cairan.

Bagi bayi dan anak dapat terus diberikan ASI atau larutan rehidrasi oral seperti oralit. Bagi anak yang lebih besar, dapat minum apa saja yang mereka sukai supaya dapat memenuhi kebutuhan cairan tubuh termasuk oralit dan produk bermerek lainnya. Biasanya adalah produk yang memiliki akhiran “Lyte”.

Mengonsumsi air putih saja terbukti tidak cukup untuk mereka yang mengalami diare. Hal ini karena air putih tidak memiliki kandungan natrium, kalium ataupun mineral lainnya yang mencukupi untuk merehidrasi anak-anak.

Diare dapat hilang dalam beberapa hari namun pada kondisi tertentu, anak harus segera dibawa ke dokter. Berikut ini adalah beberapa kondisi tersebut:

  • Tampak sangat sakit
  • Terlihat terlalu lemah untuk berdiri
  • Sudah diare lebih dari 3 hari
  • Bingung atau pusing
  • Berusia kurang dari 6 bulan
  • Muntah berupa cairan berwarna hijau atau kuning berdarah
  • Demam lebih dari 40 derajat celcius atau untuk bayi dibawah 6 bulan demam dengan suhu diatas 37 derajat celcius (diukur oleh termometer dubur)
  • Memiliki tinja berdarah
  • Bayi usia satu bulan mencret 3x atau lebih
  • Terlihat mengalami dehidrasi
  • Anak mencret 4x didalam 8 jam atau tidak minum cukup
  • Anak mmeiliki kekebalan tubuh yang lemah
  • Terlihat ruam pada tubuh anak sakit perut selama lebih dari dua jam
  • Bayi belum buang air kecil dalam 6 jam atau anak-anak 12 jam

Jika ke dokter, jangan lupa untuk bertanya mengenai jumlah cairan yang dibutuhkan anak, cara anak dapat memperoleh kebutuhan cairan tersebut, kapan harus memberikan cairan tersebut dan cara untuk mengidentifikasi tanda-tanda dari dehidrasi.

Ahli Dari Universitas Sebelas Maret Ungkap Hasil Rapid Test Non-Reaktif Belum Tentu Negatif COVID-19

Hasil rapid test reaktif belum dapat menjadi pertunjuk bagi seorang apakah telah terinfeksi COVID-19. Begitu juga sebaliknya, hasil rapid test non-reaktif belum tentu memperlihatkan seseorang negatif virus corona.

Akademisi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, dr. Tonang Dwi Ardyanto, SpPK., Phd., awalnya menjelaskan penyebutan hasil rapid test tersebut yang benar adalah reaktif ataupun non-reaktif bukanlah positif atau negatif.

Ia menyebut bahwa salah satu sumber pemicu masalah didalam pandemi COVID-19 selama ini adalah pandangan yang dipicu oleh salah kaprah penyebutan.

dr. Tonang menerangkan bahwa kata positif ini harus hati-hati digunakan untuk menyampaikan mengenai hasil rapid test COVID-19. Padahal sebenarnya tidak ada hasil positif-negatif didalam hasil rapid test COVID-19.

“Tidak ada hasil rapid test COVID-19 yang menyatakan bahwa positif,” kata dr. Tonang.

Ahli Dari Universitas Sebelas Maret Ungkap Hasil Rapid Test Non-Reaktif Belum Tentu Negatif COVID-19

Oleh karena itu, dia mengimbau untuk tidak pernah ada yang menyebut seseorang positif COVID-19 hanya karena hasil dari rapid test.

“Apakah yang hasil rapid test-nya itu reaktif pasti positif? Belum tentu,” katanya.

Setelah ada hasil rapid test yang reaktif, yang harus dilakukan berikutnya adalah tahapan untuk mengonfirmasi dengan melakukan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) pada pasien.

“Hasil PCR ini mungkin menyatakan positif COVID-19 tetapi bisa juga tidak. Oleh karena itu, rapid test dapat disebut dengan nama skrinning tetapi bukan diagnosis pasti,” katanya.

Begitu juga untuk orang memiliki rapid test non-reaktif. Menurut dr. Tonang hal tersebut tidaklah memastikan tes PCR-nya akan negatif atau bebas dari COVID-19.

“Karena mungkin saja, memang belum tepat waktunya,” jelasnya.

Untuk dapat menyebut positif dan negatif, menurut dr. Tonang akan lebih baik jika setelah mengantongi hasil dari tes PCR. Setiap pasien yang diambil dua kali swab. Untuk mudhanya dapat disebut dengan hari pertama atau H1 dan hari kedua atau H2.

“Dapat disebut positif jika minimal pada salah satu tes swab terdapat virus COVID-19,” jelasnya.

dr. Tonang mengatakan bahwa seseorang atau pasien dapat disebut negatif COVID-19 jika pada dua kali swab tidak ditemukan virus COVID-19.

“Oleh karena itu kalau ada hasil PCR yang negatif tetapi baru dari sampel pertama saja maka belum dapat di simpulkan. Harus menunggu hasil dari sampel kedua,” katanya.

Mengenai hasil rapid test yang digunakan untuk syarat dapat melakukan perjalanan, dr. Tonang memiliki pendapat bahwa akan lebih baik jika syarat tersebut juga dilengkapi dengan hasil tes PCR yang menyatakan negatif COVID-19.

“Kalaupun harus diperiksa, adalah kombinasi rapid test antigen dan rapid test antibodi pada hari keberangkatan,” kata dr. Tonang.

Situs Permainan Bitcoin Inisiasi Penggalangan Dana Untuk Melawan COVID-19

Pemilik dari situs judi online yang menggunakan bitcoin, Freebitco.in mengumumkan dana bantuan untuk virus corona ditengah banyaknya perusahaan mata uang kripto yang mendonasikan dana untuk membantu menghadapi pandemi COVID-19. Freebitco.in merupakan salah satu situs judi online yang cukup populer dengan total pengunjung sebanyak 40 juta pengunjung pada bulan lalu dan situs ini berada di posisi 2.379 secara global memnurut ranking Alexa. Situs ini akan mendonasikan 20 persen dari selisih keuntungan dan kekalahan atau “House Edge” kepada organisasi yang akan berkordinasi dengan otoritas kesehatan publik dengan tujuan menyediakan perlengkapan perlindung.

Wabah virus corona telah secara masif mengubah ekonomi dunia dan banyak orang yang membutuhkan makanan dan juga akses kesehatan. Ini telah menyebabkan banyak perusahaan di sektor publik untuk mulai menyediakan pasokan yang paling dibutuhkan dan dana bantuan untuk mereka yang terdampak oleh bencana keuangan ini.

News.bitcoin.com baru-baru ini melaporkan banyaknya perusahaan mata uang kripto yang mendonasikan dana untuk usaha bantuan virus corona selama beberapa minggu terakhir. Sebagai contohnya, organisasi yang bernama Binance Charity telah menyiapkan dana 5 juta dollar AS untuk program bantuan COVID-19.

Situs Permainan Bitcoin Inisiasi Penggalangan Dana Untuk Melawan COVID-19

Saat ini tim dibelakan situs judi kripto populer, Freebitco.in telah mengisiasi dana untuk membantu mereka yang membutuhkan pada periode yang penu dengan tekanan ini. Freebitco.in dikenal sebagai situs judi yang diluncurkan pada tahun 2013 dan situs ini telah memiliki hampir 40-46 pengunjung setiap bulannya. Para penginisiasi dari penggalangan dana ini menyatakan bahwa situs akan mendonasikan sekitar 20 persen dari pendapatan “House Edge” atau selisih dari keuntungan yang berasal dari total pemasangan pemain dengan nominal yang dimenangkan pemain untuk dana bantuan COVID-19.

Freebitco.in menyatakan, “Hasil dari penggalangan dana ini akan didonasikan kepada Direct Relief, sebuah organisasi yang berkordinasi dengan otoritas kesehatan publik, organisasi non-profit dan bisnis di Amerika Serikat untuk menyediakan peralatan perlindung diri dan berbagai barang lainnya untuk para tenaga medis yang menangani virus corona. Mari bergabung dengan kami untuk membantu para pahlawan super bertopeng ini yang berada di garis depan dengan membahayakan kesehatan mereka guna memastikan kita tetap aman.”

Freebitco.in memiliki banyak pengunjung yang bermain permainan seperti “Free Bitcoins Every Hour”, “Hi-Lo Game”, “Dice Game” dan masih banyak lagi. Freebitco.in baru-baru ini juga menambahkan permainan baru untuk memasang taruhan pada platform yang dimana membuat pemain dapat bertaruh harga BCH di sama depan.

Freebitco.in sendiri juga cukup terkenal di Russia dengan menempati posisi 692 pada ranking Alexa untuk lokasi di Rusia. Sebanyak 1,72 juta pengunjung ke Freebitco.in setiap harinya dan dengan jumlah kunjungan sebanyak itu, tidaklah sulit bagi situs judi online ini menghasilkan bantuan dana untuk melawan virus corona.

Sejauh ini banyak negara yang mengalami kekurangan pasokan medis, masker dan ventilator. Sektor privat atau swasta sendiri juga telah berupaya untuk memberikan bantuan sebanyak yang dapat mereka berikan untuk menyediakan pasokan tersebut unutk rumah sakit dan ICUs. Upaya dari sektor publik dengan mendedikasikan waktu dan tenaga mereka untuk membantu usaha melawan virus corona ini memperlihatkan bahwa masih adanya moral yang baik di dunia bisnis dan keuangan.

Gaya Hidup Yang Tidak Sehat Tingkatkan Resiko Kanker Usus

Secara global, kanker usus masuk kedalam jajaran tiga kanker dengan kasus terbanyak yang diidap penduduk dunia. Sebenarnya, jika kanker usus dapat dideteksi dini, penyakit ini dapat diobati dan memiliki angka harapan hidup yang tinggi.

Dokter spesialis penyakit dalam, Ari Fahrial Syam mengatakan jika kasus kanker usus ditemukan pada tahap awal maka harapan hidup lima tahun dapat mencapai 92 persen.

“Sebaliknya jika kanker usus ini ditemukan pada stadium IV/lanjut maka harapan hidup 5 tahunnya hanya 12 persen,” kata Ari.

Gaya Hidup Yang Tidak Sehat Tingkatkan Resiko Kanker Usus

Dokter yang mendalami masalah saluran pencernaan ini menjelaskan bahwa gaya hidup ini menjadi salah satu penyebab angka kasus kanker tinggi. Selain itu, faktor genetik juga menjadi faktor resiko tetapi gaya hidup tetap memainkan peran utama.

Beberapa faktor resiko yang telah teridentifikasi adalah konsistem didalam berbagai penelitian termasuk penelitian di Indonesia adalah diet tinggi daging merah serta daging olahan dan kurang mengonsumsi sayur atau buah.

Selain itu, rokok juga memiliki peran yang menyebabkan seseorang lebih beresiko terkena kanker usus. “Beberapa kasus kanker usus yang saya temukan bukan pada mereka yang perokok akan tetapi orang terdekat dan sekitarnya merokok sehingga mereka yang terkena kanker usus besar adalah perokok pasif.

Beberapa faktor lain adalah kegemukan, kurang bergerak dan konsumsi alkohol. Ada beberapa faktor resiko yang tidak dapat berubah adalah umur. Seseorang yang memiliki umur 50 tahun dapat melakukan skrining kanker usus.

Selain itu, faktor genetik juga memiliki peran meningkatkan resiko terkena kanker usus. Faktor genetik seperti riwayat kanker atau polip usus pada keluarga, riwayat penyakit kencing manis atau diabetes dan riwayat penyakit radang usus kronis (inflammatory bowel disease) sebelumnya adalah faktor yang harus diantisipasi menurut Ari.