Anak Yang Mengalami Diare Terlalu Sering Memiliki Resiko Lebih Tinggi Terkena Stunting

Diare adalah salah satu penyakit yang dapat menyerang siapa saja tanpa memandang usia ataupun gender. Penyakit ini sering dianggap sepele oleh sebagian orang. Hal ini disebabkan oleh banyak orang yang berpendapat bahwa diare dapat sembuh sendiri tanpa harus meminum obat.

Dijelaskan bahwa diare sebenarnya adalah cara tubuh untuk membersihkan diri dari kuman. Sebagian besar diare berlangsung beberapa hari hingga paling lama adalah seminggu. Ada juga orang yang terserang oleh diare dengan disertai oleh demam, mual dan juga muntah.

Penyebab diare yang paling sering adalah infeksi virus seperti rotavirus. Diare juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri seperti salmonella. Untuk kasus yang lebih jarang ditemukan diare yang disebabkan oleh infeksi parasit.

Namun, apakah para ibu dari Generasi Bersih dan Sehat tahu bahwa diare yang menyerang anak-anak terutama pada usiah dibawah 2 tahun dapat emnjadi penyakit yang cukup berbahaya karena dapat menyebabkan stunting atau gagal tumbuh kembang pada anak?

Diare terjadi karena terdapat gangguan pada vili usus. Gangguan ini daapt membuat penyerapan nutrisi anak menjadi terganggu.

Anak Yang Mengalami Diare Terlalu Sering Memiliki Resiko Lebih Tinggi Terkena Stunting

Walaupun begitu, dr Ariani Dewi Widodo, SpA (K) mengungkapkan bahwa tidak semua diare dapat menyebabkan terjadinya stunting. Stunting ini terjadi jika anak mengalami diare berat atau akut yang terjadi secara berulang ataupun diare kronis yang berlangsung dalam waktu lama.

Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dua minggu sementara diare akut berlangsung kurang dari 2 minggu.

“Stunting juga biasanya menyebabkan keadaan tubuh menjadi kurang baik sehingga dapat menyebabkan penyakit yang dimana salah satunya adalah diare. Ini semua saling terkait,” jelas Ariani.

Anak-anak memang lebih beresiko untuk terkena diare karena memiliki sistem kekebalan tubuh yang kurang kuat dan kebersihan tubuh yang masih kurang dijaga.

Contohnya adalah anak balita yang masih belum terbiasa untuk mencuci tangan setelah bermain ataupun sebelum makan. Pada anak yang lebih kecil lagi, kebiasaan memasukan benda kedalam mulut juga memiliki potensi menyebabkan diare.

Nah, jika anak terserang diare, ibu tentu saja harus menjaganya supaya tidaklah kehilangan terlalu banyak cairan.

Bagi bayi dan anak dapat terus diberikan ASI atau larutan rehidrasi oral seperti oralit. Bagi anak yang lebih besar, dapat minum apa saja yang mereka sukai supaya dapat memenuhi kebutuhan cairan tubuh termasuk oralit dan produk bermerek lainnya. Biasanya adalah produk yang memiliki akhiran “Lyte”.

Mengonsumsi air putih saja terbukti tidak cukup untuk mereka yang mengalami diare. Hal ini karena air putih tidak memiliki kandungan natrium, kalium ataupun mineral lainnya yang mencukupi untuk merehidrasi anak-anak.

Diare dapat hilang dalam beberapa hari namun pada kondisi tertentu, anak harus segera dibawa ke dokter. Berikut ini adalah beberapa kondisi tersebut:

  • Tampak sangat sakit
  • Terlihat terlalu lemah untuk berdiri
  • Sudah diare lebih dari 3 hari
  • Bingung atau pusing
  • Berusia kurang dari 6 bulan
  • Muntah berupa cairan berwarna hijau atau kuning berdarah
  • Demam lebih dari 40 derajat celcius atau untuk bayi dibawah 6 bulan demam dengan suhu diatas 37 derajat celcius (diukur oleh termometer dubur)
  • Memiliki tinja berdarah
  • Bayi usia satu bulan mencret 3x atau lebih
  • Terlihat mengalami dehidrasi
  • Anak mencret 4x didalam 8 jam atau tidak minum cukup
  • Anak mmeiliki kekebalan tubuh yang lemah
  • Terlihat ruam pada tubuh anak sakit perut selama lebih dari dua jam
  • Bayi belum buang air kecil dalam 6 jam atau anak-anak 12 jam

Jika ke dokter, jangan lupa untuk bertanya mengenai jumlah cairan yang dibutuhkan anak, cara anak dapat memperoleh kebutuhan cairan tersebut, kapan harus memberikan cairan tersebut dan cara untuk mengidentifikasi tanda-tanda dari dehidrasi.

Pakar Nutrisi Peringatakan Bahaya Dari Puasa Kering

Puasa kering saat ini menjadi tren baru yang sedang populer di kalangan para influencer. Namun tren yang dipercaya dapat mendetox racun didalam tubuh serta membantu diet ini disebut berbahaya oleh ahli gizi.

Sebelumnya, anda perlu mengetahui pengertian dari puasa kering. Puasa kering ini adalah puasa minum air mineral. Jadi orang yang menjalani puasa kering ini memperoleh cairan dari makanan seperti buah dan sayur segar.

“Walaupun ada beberapa variasi, puasa kering pada dasarnya tidak minum sama sekali. Anda hanya dapat air dari makanan, terutama buah dan sayur segar,” kata Jackie Newgent, RDN, seorang ahli gizi kuliner.

Salah satu influencer yang berasal dari Austria, Sophie Prana membagikan video diet puasa keringnya. Ia menggambarkan praktek ini sebagai pilihan yang terbaik.

Walaupun faktanya buah dan sayuran adalah makanan yang kaya dengan air dan dapat membantu menghidrasi tubuh, nyatanya tetap akan sulit untuk mendapatkan semua cairan yang kita butuhkan dalam satu hari. Hal tersebut dijelaskan oleh editor nutrisi kontriusi kesehatan, Cynthia Sass, RD.

Pakar Nutrisi Peringatakan Bahaya Dari Puasa Kering

Menurut Akademi Ilmu Kedokteran Teknik Nasional, wanita di atas usia 19 membutuhkan total 2,7 liter cairan per hari yaitu sekitar 11 gelar air sedangkan pria membutuhkan sekitar 3,7 liter atau sekitar 15 gelas. “Sekitar 20 persen dari cairan kami biasanya berasal dari makanan tetapi itu masih menyisakan 8-12 gelas jika berdasarkan pada yang wajib yang dikonsumsi, belum termasuk kebutuhkan tambahan yang disebabkan oleh aktivitas olahraga dan sehari-hari,” jelasnya.

Menurut Sass, tubuh menggunakan air sebagai pendukung pencernaan dan sirkulasi yang sehat, membantu mengatur suhu tubuh, mendukung fungsi organ, melumasi sendi dan melindungi organ dan jaringan didalam tubuh. Ketika tubuh kehilangan sekitar 2 persen cairan maka dapat berdampak buruk untuk kinerja fisik, merusak suasana hati, meningkatkan sakit kepala, mengurangi konsentrasi, merusak memori kerja dan meningkatkan kelelahan serta kecemasan.

“Sementara beberapa influencer mengklaim puasa kering dapat bermanfaat untuk pencernaan, peradangan adn kesehatan kulit namun nyatanya tidak seperti itu,” kata ahli gizi Newgent.

Newgent menambahkan bahwa jika tubuh tidak terhidrasi dengan baik maka seseorang dapat berisiko mengalami pengembangan batu ginjal hingga infeksi saluran kemih. Menurutnya, bahkan sebagian orang yang melakukan puasa kering juga dapat mengancam jiwa disebabkan oleh komplikasi yang berasal dari dehidrasi.

“Air adalah nutrisi terpenting nomor satu untuk proses tubuh anda termasuk pencernaan dan proses penyerapan nutrisi yang tepat, kita butuh air untuk membersihkan sampah yang ada didalam tubuh kita. Air sangat penting untuk kehidupan,” tegasnya.

Secara keseluruhan, para ahli atau orang yang terlatih yang memiliki sertifikasi ahli diet terdaftar juga setuju dengan konsep menghindari air bukan hanya tidak sehat akan tetapi sangat berpotensi untuk membahayakan kesehatan. Brittany Modell, RD, pendiri dari Brittany Modell Nutrition dan Wellness bahkan menyebut bahwa mereka yang mempratekan hal ini termasuk hal yang gegabah.