29 Pelajar Membutuhkan Terapi Psikologis Setelah Melihat Teman Bunuh Diri

Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyatakan ada kecenderungan kejadian pelajar bunuh diri akan ditiru oleh teman sekolah pelaku ataupun siswa-siswi dari sekolah lain. Tindakan pencegahan pun dibutuhkan, tidak hanya di tingkat sekolah yang menjadi lokasi siswi bunuh diri akan tetapi diseluruh sekolah yang ada di Jakarta.

Pernyataan tersebut dikeluarkan menyusul adanya laporan yang diterima oleh KPAI mengenai adanya upaya percobaan bunuh diri pada sekolah lain. Menurut KPAI, fenomena ini tidak dapat diatasi dengan hanay menghadirkan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak untuk membantu proses pemulihan psikologis pada anak-anak.

29 Pelajar Membutuhkan Terapi Psikologis Setelah Melihat Teman Bunuh Diri

Menurut KPAI, sebagai upaya pencegahan, Dinas Pendidikan DKI Jakarta harus dapat berperan dengan bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DKI Jakarta. Dari kasus siswi bunuh diri pada salah satu SMP Jakarta, psikolog Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak DKI Jakarta mencatat terdapat 29 anak yang membutuhkan tindak lanjut terkait terapi psikologis.

KPAI menyebutkan bahwa psikolog Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak DKI Jakarta melakukan pendampingan kepada para siswa-siswi yang tengah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pada kejadian siswi bunuh diri dengan melompat dari lantai empat gedung sekolah yang akhirnya jatuh dan meninggal di halaman sekolah.

“Terdapat 79 siswa yang telah diberikan pendampingan yang pada kejadian melihat korban tergeletak dan syok sehingga memerlukan pendampingan psikologi,” kata Ketua KPAI Susanto.