Kanker Paru Bukanlah Penyakit Yang Ujug-Ujug Muncul Seperti COVID-19

Ketua POKJA Kanker Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr. Elisna Syahruddin, Phd, Sp.P(K)Onk, menjelaskan perbedaan antara kanker terutama kanker paru dengan COVID-19.

Menurutnya, kanker adalah penyakit gen yang tumbuh didalam tubuh setelah proses yang memakan waktu lama. Sedangkan, COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus menular.

COVID-19 cenderung tidak membutuhkan waktu yang lama untuk memperlihatkan gejala. Sedangkan kanker membutuhkan waktu paling tidak 10 tahun untuk dapat tumbuh sebesar 1 cm dan baru terdiagnosis.

“Kanker ini bukanlah penyakit yang ujug-ujug tetapi itu memerlukan waktu yang lama yang dikenal dengan nama carcinogenesis atau proses pertumbuhan sel normal menjadi sel kanker dan baru dapat terdeteksi secara klinis,” kata Elisna pada webinar Lungtalk IPKP.

Kanker Paru Bukanlah Penyakit Yang Ujug-Ujug Muncul Seperti COVID-19

“Kenapa kanker paru repot karena tumbuhnya didalam sehingga sulit untuk terlihat, beda dengan kanker payudara yang kalau ada benjolan kecil langsung dapat didiagnosa.”

Ia menambahkan bahwa faktor resiko dari kedua penyakit ini juga berbeda. Seseorang dapat terinfeksi COVID-19 jika tidak mematuhi protokol kesehatan seperti tidak melakukan jaga jarak, tidak menggunakan masker dan aturan lainnya. Sedangkan faktor resiko kanker paru yang paling besar itu adalah karena merokok dan polusi udara.

“Sebenarnya faktor resiko kanker itu sangat jelas dan ada 4 dari 10 kanker itu dapat dicegah termasuk salah satunya kanker paru. Salah satu penyebabnya adalah paparan asap rokok.”

Selain perokok aktif, perokok pasif juga memiliki resiko tinggi untuk terkena kanker paru.

Disamping paparan asap rokok, kanker paru juga dapat disebabkan oleh faktor lainnya seperti mengonsumsi makanan tidak sehat. Makanan cepat saji yang enak tanpa disadari memiliki resiko yang tinggi untuk menyebabkan kanker tidak hanya kanker paru tetapi kanker secara umum.

“Untuk kanker secara umum, berat badan yang berlebihan juga meningkatkan resiko. Tidak meminum alkohol, jangan coba-coba. Jangan terlalu santai harus aktif bergerak.”

Menurutnya, kanker paru bukanlah penyakit yang dapat diturunkan. Akan tetapi, jika orang tua mengalami kanker maka anaknya memiliki kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan anak yang orang tuanya tidak mengalami kanker.

Ini Kandungan Nutrisi Beserta Manfaat Dari Durian Untuk Tubuh

Bagi untuk sebagian orang Indonesia, durian adalah buah yang memiliki kenikmatan yang tinggi. Tidak heran jika buah yang banyak ditemui di Asia Tenggara ini dijuluki dengan nama “Raja Buah”.

Akan tetapi, buah ini memiliki aroma yang sangat kuat karena terdapat kandungan 44 senyawa aromatik aktif didalamnya. Aroma yang terlalu kuat ini membuat sebagian kecil orang cenderung menghindari buah ini.

Buah berduri ini juga dilarang oleh beberapa jaringan hotel dan penerbangan karena aromanya yang terlalu kuat. Kabar baiknya adalah durian selain memiliki aloma yang kuat ternyata juga memiliki nutrisi yang cukup baik unutk kesehatan.

Dilansir dari majalah kesehatan Healthline, durian adalah buah yang memiliki gizi yang cukup banyak dan kaya akan serat serta Vitamin B dan Vitamin C.

Buah dengan kulit berduri ini juga kaya akan senyawa antosianin, polifenol, karotenoid dan flavonoid yang dapat berfungsi sebagai antioksidan.

Ini Kandungan Nutrisi Beserta Manfaat Dari Durian Untuk Tubuh

Didalam satu cangkir atau 234 gram durian, pada umumnya terdapat kandungan nutrisi sebagai berikut.

  • Karbohidrat: 66 gram
  • Lemak: 13 gram
  • Kalori: 357
  • Protein: 4 gram
  • Serat: 9 gram
  • Vitamin C: 80% persen dari nilai harian
  • Tiamin: 61% dari nilai harian
  • Vitamin B6: 38% dari nilai harian
  • Mangan: 39% dari nilai harian
  • Riboflavin: 29 persen dari nilai harian
  • Kalium: 30 persen dari nilai harian
  • Tembaga: 25 persen dari nilai harian
  • Magnesium: 18 persen dari nilai harian
  • Folat: 22 persen dari nilai harian
  • Niasin: 13 persen dari nilai harian

Selain buah yang kaya akan nutrisi, ternyata pada bagian daun, kulit hingga akar dari durian juga dapat digunakan untuk berbagai hal. Di Malaysia, kulit, daun dan akar dari durian sering digunakan untuk pengobatan tradisional untuk berbagai penyakit seperti penyakit kuning, demam tinggi dan gangguan kulit ringan.

Banyak penelitian ilmiha telah membuktikan durian memiliki manfaat untuk kesehatan. Berikut ini adalah beberapa manfaatnya,

  1. Mengurangi Resiko Kanker
    Kandungan antioksidan didalam durian dapat menetralisir radikal bebas yang menjadi penyebab dari kanker. Riset yang meneliti ekstrak durian juga memperlihatkan bahwa buah dengan aroma yang tajama ini dapat membantu memperlambat penyebaran sel kanker payudara.
  2. Mencegah Penyakit Jantung
    Beberapa senyawa didalam durian dapat membantu mengurangi kadar kolesterol dan resiko pengerasan pembuluh darah atau aterosklerosis.
  3. Melawan Infeksi
    Pada bagian kulit durian memiliki kandungan senyawa yang memiliki sifat antibakteri dan juga anti ragi. Bakteri dan ragi sendiri adalah faktor utama pemicu terjadinya infeksi.

Walaupun memiliki banyak manfaat, durian adalah buah yang memiliki kandungan alkohol didalamnya sehignga dapat memberikan efek yang hampir sama dengan mengonsumsi minuman keras.

Para ahli percaya bahwa senyawa sulfur yang ada didalam durian dapat mencegah enzim didalam tubuh manusia memecah alkohol dan menyebabkan peningkatan kadar alkohol didalam darah.

Oleh karena itu, mengonsumsi durian yang terlalu banyak dapat membuat kita merasa mual, muntah hingga jantung berdebar.

Selain itu, hindari juga mengonsumsi durian bersamaan dengan alkohol sehingga tidak menyebabkan masalah kesehatan serius dikemudian hari.

Gaya Hidup Yang Tidak Sehat Tingkatkan Resiko Kanker Usus

Secara global, kanker usus masuk kedalam jajaran tiga kanker dengan kasus terbanyak yang diidap penduduk dunia. Sebenarnya, jika kanker usus dapat dideteksi dini, penyakit ini dapat diobati dan memiliki angka harapan hidup yang tinggi.

Dokter spesialis penyakit dalam, Ari Fahrial Syam mengatakan jika kasus kanker usus ditemukan pada tahap awal maka harapan hidup lima tahun dapat mencapai 92 persen.

“Sebaliknya jika kanker usus ini ditemukan pada stadium IV/lanjut maka harapan hidup 5 tahunnya hanya 12 persen,” kata Ari.

Gaya Hidup Yang Tidak Sehat Tingkatkan Resiko Kanker Usus

Dokter yang mendalami masalah saluran pencernaan ini menjelaskan bahwa gaya hidup ini menjadi salah satu penyebab angka kasus kanker tinggi. Selain itu, faktor genetik juga menjadi faktor resiko tetapi gaya hidup tetap memainkan peran utama.

Beberapa faktor resiko yang telah teridentifikasi adalah konsistem didalam berbagai penelitian termasuk penelitian di Indonesia adalah diet tinggi daging merah serta daging olahan dan kurang mengonsumsi sayur atau buah.

Selain itu, rokok juga memiliki peran yang menyebabkan seseorang lebih beresiko terkena kanker usus. “Beberapa kasus kanker usus yang saya temukan bukan pada mereka yang perokok akan tetapi orang terdekat dan sekitarnya merokok sehingga mereka yang terkena kanker usus besar adalah perokok pasif.

Beberapa faktor lain adalah kegemukan, kurang bergerak dan konsumsi alkohol. Ada beberapa faktor resiko yang tidak dapat berubah adalah umur. Seseorang yang memiliki umur 50 tahun dapat melakukan skrining kanker usus.

Selain itu, faktor genetik juga memiliki peran meningkatkan resiko terkena kanker usus. Faktor genetik seperti riwayat kanker atau polip usus pada keluarga, riwayat penyakit kencing manis atau diabetes dan riwayat penyakit radang usus kronis (inflammatory bowel disease) sebelumnya adalah faktor yang harus diantisipasi menurut Ari.