Kecilkan Perut Dengan Mengonsumsi Makanan Ini

Lemak menumpuk pada area perut tentunya mengganggu penampilan dan dapat memicu masalah kesehatan. Oleh karena itu, dibutuhkan olahraga yang teratur untuk dapat membuang lemak tersebut.

Tapi, anda juga dapat mengonsumsi makanan tertentu yang dapat membantu membuang lemak didalam perut. Menurut penelitian dari ahli kesehatan, makan lebih banyak serat larut dapat membantu untuk menghilangkan lemak perut.

Umumnya serat dibagi kedalam dua kategori yaitu serat yang tidak larut dan larut. Keduanya berinteraksi dengan air didalam tubuh dengan cara yang berbeda.

Serat tidak larut tidak akan bercampur dengan air dan bertindak lebih sebagai agen bulkin. Jenis serat ini membantu dalam pembentukan feses yang sehat dan memungkinkannya melewati usus dengan lancar.

Kecilkan Perut Dengan Mengonsumsi Makanan Ini

Serat larut bercampur dengan air dan membentuk zat seperti gel yang akan memperlambat pencernaan. Ketika serat larut mencapai usus besar, maka akan difermentasikan oleh bakteri usus menjadi asam lemak yang merupakan sumber dari nutrisi utama untuk sel usus besar.

Studi memperlihatkan bahwa asam lemak rantai pendek tersebut membantu untuk meningkatkan kadar hormon, seperti kolesistokinin, PYY dan GLP-1 yang membantu untuk mengurangi lemak viseral dengan menekan nafsu makan.

Menurut ketua peneliti Kristen Hairston, MD, asisten profesor penyakit dalam di Wake Forest Baptist, 10 gram serat larut dapat dicapai dengan mengonsumsi 2 buah apel kecil dan satu cangkir kacang hijau.

Adapun makanan yang termasuk dalam serat larut adalah antara lain oat, barley, rice bran, buah jeruk, stroberi dan kentang.

Konsumsi lebih banyak serat larut dapat membuat tubuh memiliki variasi bakteri yang lebih banyak dan hasil kesehatan lebih baik untuk menghilangkan lemak perut.

Karena, bakteri dapat membantu memproduksi vitamin dan pengolahan sampah. Ada banyak variasi bakteri usus yang lebih banyak dikaitkan dengan resiko lebih rendah dari diabetes tipe 2, penyakit jantung dan resistensi insulin.

Karena tubuh tidak dapat mencerna serat tersebut sendiri, maka serat yang mencapai usus sebagian besar tidak berubah. Selain itu, enzim spesifik dalam bakteri usus dapat mencerna serat larut. Proses tersebut adalah salah satu cara penting untuk meningkatkan kesehatan bakteri usus secara optimal.

Serat larut juga membantu untuk menurunkan penyerapan lemak dan manajemen berat badan. Serat larut juga membantu untuk menstabilkan kadar gula darah dengan cara mencegah lemak diserap kembali serta memperlambat laju pencernaan nutrisi lainnya.

Gaya Hidup Yang Tidak Sehat Tingkatkan Resiko Kanker Usus

Secara global, kanker usus masuk kedalam jajaran tiga kanker dengan kasus terbanyak yang diidap penduduk dunia. Sebenarnya, jika kanker usus dapat dideteksi dini, penyakit ini dapat diobati dan memiliki angka harapan hidup yang tinggi.

Dokter spesialis penyakit dalam, Ari Fahrial Syam mengatakan jika kasus kanker usus ditemukan pada tahap awal maka harapan hidup lima tahun dapat mencapai 92 persen.

“Sebaliknya jika kanker usus ini ditemukan pada stadium IV/lanjut maka harapan hidup 5 tahunnya hanya 12 persen,” kata Ari.

Gaya Hidup Yang Tidak Sehat Tingkatkan Resiko Kanker Usus

Dokter yang mendalami masalah saluran pencernaan ini menjelaskan bahwa gaya hidup ini menjadi salah satu penyebab angka kasus kanker tinggi. Selain itu, faktor genetik juga menjadi faktor resiko tetapi gaya hidup tetap memainkan peran utama.

Beberapa faktor resiko yang telah teridentifikasi adalah konsistem didalam berbagai penelitian termasuk penelitian di Indonesia adalah diet tinggi daging merah serta daging olahan dan kurang mengonsumsi sayur atau buah.

Selain itu, rokok juga memiliki peran yang menyebabkan seseorang lebih beresiko terkena kanker usus. “Beberapa kasus kanker usus yang saya temukan bukan pada mereka yang perokok akan tetapi orang terdekat dan sekitarnya merokok sehingga mereka yang terkena kanker usus besar adalah perokok pasif.

Beberapa faktor lain adalah kegemukan, kurang bergerak dan konsumsi alkohol. Ada beberapa faktor resiko yang tidak dapat berubah adalah umur. Seseorang yang memiliki umur 50 tahun dapat melakukan skrining kanker usus.

Selain itu, faktor genetik juga memiliki peran meningkatkan resiko terkena kanker usus. Faktor genetik seperti riwayat kanker atau polip usus pada keluarga, riwayat penyakit kencing manis atau diabetes dan riwayat penyakit radang usus kronis (inflammatory bowel disease) sebelumnya adalah faktor yang harus diantisipasi menurut Ari.